Feeds:
Posts
Comments

Il Bisonte adalah satu merek yang saya kenal karena saya sering buka-buka majalah Jepang. Saya jatuh cinta pada collateral dan branding merek ini karena warnanya yang earth tone dan entah kenapa dari melihat macam-macam visual yang disajikan merek tersebut saya langsung percaya kalau apapun yang dihasilkan oleh merek tersebut pasti buatannya bagus. Merek ini sendiri memang lahir di Firenze, Italia. Negara yang dikenal pembuat leather good dengan kualitas bagus. Jadi pas banget, ya, image dan branding yang ingin disampaikan dengan yang saya rasakan. Merek ini sepertinya terkenal di Jepang karena beberapa kali buka majalan dari Jepang atau lihat majalah Jepang saya melihat merek ini.

Beberapa bulan lalu, saya sedang makan di Nomz (which deserves another blog post) dan mata saya langsung tertuju ke toko baru Il Bisonte di Grand Indonesia. Senang, dong, saya mengetahui merek yang saya sempat jatuh cinta lewat majalah ada di Indonesia. Pas saya masuk ke tokonya, bau khas kulit langsung tercium dan tas-tas yang saya lihat ternyata sesuai dengan bayangan yang selama ini ada dalam benak saya mengenai merek tersebut. A brand with great craftsmanship of leather good with a non-sense and lean toward functionality when you’re talking about bags and accessories. Harganya sih nggak usah heran kalau tasnya setiap kali ada yang saya suka ternyata di atas 10 juta *cry* padahal modelnya simpel saja. Tapi justru karena simpel dan dibuat dengan bagus itu yang membuat saya jatuh cinta.

Tapi yang langsung menarik perhatian saya adalah gelang-gelangnya yang terbuat dari kulit. So simple yet refined and the colours are so bright and lush! Kulitnya sendiri juga lemas dan kelihatan bagus. Desainnya tidak terlalu macam-macam. Saya pikir pasti harganya mahal. Ternyata … gelang-gelangnya berkisar antara IDR 249,000 – 1 juta. Which is the same price range with any other leather bracelets branded or non-branded that I’ve come across so farI’m instantly hooked on the design and with the reasonable price there’s no reason not to get one.

Ada satu buku yang masuk dalam daftar bacaan saya satu bulan belakangan ini, judulnya: Finance for Nonfinancial Managers. Buku ini WAJIB selesai dibaca tapi susah sekali untuk maju satu halaman saja. Selama beberapa minggu buku ini ada di dalam tas saya, sampai akhirnya saya keluarkan karena setiap kali di jalan dan saya ingin membacanya kok bawaannya malas, ya! Rasanya kalau pagi hari topiknya terlalu serius untuk otak saya yang masih loading untuk menerimanya. Sedangkan dalam perjalanan pulang malas rasanya sudah capek masih juga harus berkutat dengan topik yang serius.

Kenapa, sih, saya sampai membeli buku ini?

Dalam masalah pekerjaan banyak sekali posisi atau pekerjaan yang menuntut kita harus mengerti hal-hal yang berkaitan dengan finance padahal latar belakang kita sama sekali tidak ada kaitannya dengan hal tersebut. Yang paling umum mungkin mereka yang bekerja di industri perbankan. Tidak semua orang yang kerja di Bank harus memiliki latar belakang finance, contohnya mereka yang kerja di supporting unit. Tapi karena kerja di Bank pasti akan sering dengar istilah-istilah finance, kan? Nah, oleh karena itu penting tuh untuk tetap mengerti finance walaupun latar belakang kita bukan finance. Selain itu semakin tinggi posisi kita maka kita akan sering berhadapan dengan prospektus yang sedikit banyak berkaitan dengan keuangan. Tidak hanya dituntut bisa mengerti tapi kita juga harus bisa menganalisa agar bisa menggunakan financial statement atau apapun yang memilki unsur keuangan agar bisa membuat strategi bisnis jitu.

Kalau saya sendiri, sih, sebenarnya karena kebanyakan klien saya dari industri perbankan dan sudah makanan sehari-hari saya mendengarkan istilah-istilah perbankan dan keuangan. Jadi, penting nih buat saya sendiri untuk mengerti. Humm, ini membuat saya juga berpikir pasti banyak diluar sana yang senasib dan sepenanggungan dengan saya dituntut mengerti mengenai finance, walaupun hanya di permukaan saja, padahal tidak punya latar belakang tersebut. It would be a challenging course to develop but it’s a challenge that I think I would want to take upon.

IMG_4464

Ada satu maskara yang saya lumayan tunggu-tunggu karena visualnya yang menarik di Instagram yaitu Benefit Roller Lash Mascara. Memang merek yang satu ini jago banget, deh, dalam mengolah visual yang menarik sehingga pada saat launching di US dan gambar-gambarnya santer di Instagram jadi membuat saya penasarah. Eh, ternyata, kali ini launching maskara ini di Indonesia nggak beda jauh dari di US jadi saya merasa nggak basi banget nungguin maskara ini.

Dari sisi packaging saya sangat tertarik dengan storytelling yang disampaikan oleh produk Benefit satu ini. Again, they’re really good in creating story that makes people want to buy their products. Produk ini dikemas dalam tuba hitam (standar lah) dengan tutup pink agak peach. Begitu melihat tutupnya saya langsung ingat rol rambut! The oldies peach pink hair roller not the cute Korean sponge roller. Ternyata memang konsepnya bulu mata yang curl-nya ‘megang’ banget ala poni yang sudah style dengan rol rambut legendaris itu. Jadi, tanpa eyelash curler pun bulu mata bisa tetap eksis. Apalagi kalau pagi-pagi sedang buru-buru kayaknya maskara ini akan sangat berguna, ya?

The science behind this mascara is that the applicator have one side that will hook your lashes and roll it so that it will help to curl it and the other part will coat the lashes with mascara to make the curl lasts. Terdengar cukup mudah kan? Ketika saya gunakan maskara tersebut memang terasa sih sikat maskara seperti nyangkut ketika bersentuhan dengan bulu mata. Dan ketika selesai menyapukan maskara terlihat bulu mata saya naik dan tidak layu seperti biasanya. Tapi kalau dibandingkan dengan curl yang dihasilkan kalau saya pakai eye lash curler Shu Uemura andalan saya hasilnya memang tidak bisa dibandingkan. Tapi curl yang dihasilkan Roller Lash Mascara ini bisa dibilang natural dan cukup, sih, untuk hari-hari apalagi kalau lagi buru-buru. Cukup memuaskan. Tapi saya lebih pilih pakai eye lash curler terlebih dahulu baru saya pakaikan maskara ini, hasilnya benar-benar ‘megang’ banget, deh.

IMG_4459

Kalau formula sendiri saya suka karena tekstur maskaranya kerasa tidak kental jadi sekali sapu langsung bulu mata saya terlapisi. Hasilnya pun terlihat natural, just the kind of look I would want for everyday lashes. Kalau untuk pesta, saya suka menggunakan ini untuk layering dengan maskara saya yang lainnya yang memberikan volume dan maskara ini saya pakaikan pada langkah terakhir untuk hold curl.

Yang saya suka dari maskara ini adalah walaupun tidak waterproof tapi tidak smudging juga, loh! Untuk menyiasati masalah tidak waterproof-nya, misalnya setelah wudhu coba deh tidak mengedip-ngedikan mata sehingga tidak luntur ke area bawah mata. Begitu airnya kering, maka maskara juga tetap stay kok. Selain itu, keuntungannya dari tidak waterproof adalah gampang dibersihkan! Paling males maskara tuh adalah satu produk yang butuh pembersihan ekstra. Makanya, maskara tidak waterproof adalah yang paling saya sukai untuk dipakai hari-hari. Kalau produknya sendiri bisa dibeli di toko Benefit di Plaza Senayan atau Plaza Indonesia dan di Sephora.

Just the kind of mascara that I would reach out for everyday wear.

Sudah hampir 3 bulan saya absen berolahraga. Alasannya klasik: Jakarta macet. Kapan, sih, Jakarta nggak macet? Tapi akhir-akhir ini memang macet di Jakarta luar biasa sekali. Biasanya kalau ada janji jam 10 pagi di sekitaran Thamrin atau Gatot Subroto saya bisa berangkat jam 9, akhir-akhir ini butuh waktu tempuh 90 menit hingga 2 jam untuk sampai ke tujuan. Kalau sudah begini, malas sekali rasanya berolahraga. Apalagi jadwal Pilates di studio yang saya biasa pergi paling pagi jam 8 mulainya. 



Kira-kira dua minggu lalu saya dapat undangan dari Mommies Daily untuk menghadiri acara mereka di Gold’s Gym, Citywalk, untuk mencoba kelas Body Vive yang diselenggarakan bersama dengan Cussons Imperial Leather. Humm … Sabtu pagi sudah bangun untuk olahraga? That’s very rare for me. Tapi alasan tambahan untuk bisa bertemu teman-teman dari Female Daily membuat saya semangat dan juga saya penasaran dengan Body Vive yang sedang heitzYou can say it’s the exercise du jour or something

Body Vive, what is it? Sebenarnya saya sempat menganggap remeh juga sih kelas ini … ah, palingan juga gerak kanan kiri nggak jelas. Ternyata! It’s a total body workout with alot of movements. Idenya sih kelas ini ditujukan untuk mereka yang tidak punya waktu banyak untuk berolahraga tapi dengan sekitar 45 menit kita sudah dapat kombinasi dari strength, cardio and core training. Dari gerakan sendiri sebenarnya banyak mengambil dari kombinasi lunges dan squats sampai loncat-loncatan dan lari-larian di tempat. Nah, yang agak susah itu kalau harus mengkoordinasikan gerakan tersebut dengan gerakan lain – mesti ke kanan apa ke kiri, nih? Ah, bingung deh! But boy did I sweat in the first half of the session from the cardio training! Untuk strength sendiri, kelas ini memakai alat yang sebenarnya pada prinsipnya mirip dengan resistance band, tapi karena ada pegangan diujungnya jadi lebih gampang untuk memegangnya dan nyaman. Gerakan yang kelihatannya piece of cake, cuman jalan selangkah ke kanan ke kiri saja, jadi susah! Karena, ya, itu ada tantangan ekstra dengan alat tersebut. Do I love it? Ya! Apalagi di akhir ada sesi di mat yang benar-benar melatih core. Tapi, sayangnya saya orang yang sangat buruk dengan koordinasi, jadi kelas-kelas yang gerakannya terlalu cepat dan butuh koordinasi gerakan seperti ini bikin saya lebih banyak bingungnya :P 



Saya dan Lita, partner dalam kebingungan kelas body vive

Kebetulan karena acaranya pagi banget, Sabtu pula! Saya bangun tidur langsung pergi ke gym. Lah, nanti keringetan juga? Untungnya di kamar mandi Gold’s Gym sudah disediakan berbagai macam varian sabun mandi dari Cussons Imperial Leather. Sekalian bisa nyoba, deh. Lagi-lagi di antara segitu banyaknya varian yang disediakan, saya malah memilih varian dengan wewangian mawar yang bernama Softly Softly. I feel old, nowadays I gravitate toward something I’m familiar with.

Saya paling suka sebenarnya aroma mawar. TAPI … ada tapinya, nih. Biasanya produk dengan aroma mawar itu wanginya terlalu menyengat dan kesannya nenek-nenek banget. But not this one, this one is every so soft! Masih tercium wangi mawarnya tapi tidak terlalu manis dan menyengat. Apalagi body mist-nya, baunya ringan dan karena tidak ada alkoholnya jadi tidak menyengat. A perfect choice if you need to run out of the gym in a hurry to catch a meeting. Saya sering banget, sih, kalau pagi-pagi berolahraga di hari kerja biasanya mandi dulu di rumah, dandan dan baru olahraga. Paling setelah itu lap-lap saja dan semprot body mist sebanyak-banyaknya. Masalahnya kalau pakai acara mandi dan dandan dulu di gym suka tidak sempat. So truly this is a product that will have many miles in dictionary. 



Kalau sabunnya? Jujur saja sudah lama sekali saya tidak memakai varian Cussons Imperial Leather. To my surprise this body soap is truly hydrating. Saya paling tidak suka dengan sabun mandi yang membuat kulit kita terasa kering dan kesat setelah mandi. Rasanya, mau dipakaikan body lotion satu botol juga tidak bisa mengembalikan kelembapan pada kulit kita saking sabun tersebut membuat kering kulit kita. But this is not the case with Cussons Imperial Leather. Tentu saja untuk sabun saya juga memilih varian Softly Softly. Saya paling tidak suka dengan wangi yang campur-campur jadi biasanya saya akan memakai produk bath and body dari satu varian saja. Untungnya, untuk melembapkan kembali kulit saya memakai body oil yang tidak ada wanginya. Jadinya wangi lembut Softly Softly masih tercium halus. But I wouldn’t mind if they come up with a body lotion.

Varian Cussons Imperial Leather ini masih banyak yang lain, kok kalau tidak suka aroma mawar. Untuk info lengkapnya bisa dilihat di website mereka di www.imperialleather.co.id. Katanya, sih, produk ini sering ada promo di Carrefour #teremakemak. Nah, untuk tahu promo-promo paling update dari Cussons bisa juga follow Facebook dan Twitter mereka jadi tidak ketinggalan informasi promo.

Finally I’ve found a resurfacing serum that works and doesn’t cost a fortune. This #Novexpert The Peeling Night Cream is truly a steal for those looking for an alternative to Sunday Riley Good Genes. 

 Here’s a mini review of this product. 



 It contains Gluconolactone (PHA), Glycolic Acid & Lactic Acid (AHAs), & Papaya Extract (natural exfoliant). With added Hyaluronic Acid to give minimal hydration to your skin. 

I used it alone at night, right after exfoliating toner & a mist of hydrating toner. No moisturizer whatsoever afterward. Used it for 7 days straight. My new acne scars visibly lightened in just two days and almost completely disappears in day 7. My skin looks more radiant than ever (not pale white!) albeit having a very busy week running for mutiple meetings and working till 2AM. It also feels so soft that I want to touch it all the time. It’s not drying, of course no moisturizer means your skin will not feel as hydrated, but the HA really helps in keeping minimal hydration at bay. In other word no dry pacthes and tight feeling on the skin. 

I know single use of resurdacing treatment could be taxing on people with dry skin cause your skin feels drier than usual. Use hydrating mask before you apply your peeling treatment every other day to help with hydration. I recommend mask like Glamglow Thirstymud or Peter Thomas Roth Cucumber Gel Mask.

Most important thing, it’s easily accessible here at @beautyboxind for IDR495,000! 

P.S. I know that when you talk with the BA they will recommend to use this one full month and take a 6 month rest before using this product again. But I prefer to use it only for 7 days straight monthly.

Dulu, salah satu kelemahan saya adalah blusher! Mungkin sampai sekarang masih, sih. Tapi mengingat ada satu masa di hidup saya di mana saya punya sampai 60 blush, saya jadi bisa lebih mengerem diri! Unless it’s trully something I can not resist! 

Nah, dari berbagai macam blusher yang telah saya coba ada satu merek nih yang menurut saya dari segi harga dan kualitas sangat-sangat memuaskan yaitu blusher dari Media – salah satu brand drugstore keluaran Kanebo. Sayangnya merek ini tidak ada di Jakarta. 

Dari segi kemasan memang nothing fancy, bisa dibilang sangat menggambarkan harganya. Maklum, harganya di bawah Rp 100,000, saya lupa pastinya. Tapi yang jelas dari segi kualitas bisa dibilang sangat memuaskan. Seperti kebanyakan blusher lain keluaran merek Jepang produk ini teksturnya halus sekali dan partikelnya pun halus. Soft shimmer, as what you would expect from Japanese product. Staying power dan pigmentasi pun tidak mengecewakan. Warna kalau disapukan langsung keluar, tidak terlalu meleset dari pan, dan warna bertahan 6-8 jam! 

Pekerjaan saya saat ini banyak berurusan dengan ‘belajar’. Nah, dalam hal belajar, tentu saja kita harus dapat mengukur keberhasilan suatu pembelajaran. Biasanya, sebelum ada tes besar untuk mengukur keberhasilan course, di dalam setiap sub-course ada kuis-kuis kecil yang diselipkan untuk mengukur pemahaman peserta belajar untuk materi tersebut. Baru nanti kalau sudah selesai belajar keseluruhan materi diberikan tes besar. Contoh sehari-harinya adalah ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester – kebetulan anak saya baru saja selesai ulangan tengah semester, jadi contoh ini langsung muncul di kepala saya.

Dengan ulangan harian dan ulangan tengah semester, murid jadi dapat mengukur materi mana yang sebenarnya belum ia pahami dan harus diulang lagi belajarnya kalau nilainya benar-benar jelek. Kalau hanya satu dua materi saja yang belum dipahami, biasanya ulangan tersebut malah bisa jadi reminder atas poin yang terlewatkan. Ini juga jadi latihan sebelum tes besar di akhir semester. Kalau semuanya ditumpuk di akhir dan tanpa dibagi-bagi, bisa lupa juga kita materi yang dipelajari dan malah overwhelmed.

Biasanya, nih, yang memicu anak saya untuk mendapatkan nilai bagus atau amit-amit jangan sampai nilai di bawah ‘X’ adalah reward and punishment atau stick and carrot. Iming-iming hadiah membuat anak saya jadi punya tekad lebih untuk dapat nilai bagus. Nah, hal ini, nih, yang biasanya saya bilang ke klien saya kalau ada iming-iming sesuatu biasanya orang akan lebih semangat belajar. Nggak anak kecil nggak orang dewasa, rahasianya masih sama kok untuk memastikan dengan mudah kelancaran proses belajar mengajar :D

Anyway, konsep ulangan yang terbagi-bagi ini ternyata juga efektif untuk mengukur hasil kerja anak buah dan juga review. Secara berkala sebagai atasan baiknya memberikan feedback langsung atas pekerjaan anak buah – baik feedback positif maupun negatif. Agar mereka tahu betul apakah pekerjaan mereka sudah sesuai dengan yang diinginkan oleh atasan atau perusahaan tempat mereka bekerja. Kalau misalnya feedback penting di tahan sampai ‘ujian akhir semester’ bisa-bisa mereka sudah lupa poin yang kita maksudkan dan efeknya malah tidak efektif. Mereka jadi harus merunut sampai awal atau malah nilai pekerjaan mereka jadi buruk secara keseluruhan di mata atasan dan perusahaan karena nasi sudah menjadi bubur. Mirip dengan anak saya kalau harus langsung ujian akhir semester tanpa ujian kecil-kecil lainnya, jadi bingung!

Selain itu, sistem stick and carrot ini penting juga untuk merefleksikan kinerja mereka. Kalau mereka melakukan kesalahan harus ditegur dan mungkin setelah beberapa kali ada hukumannya, begitu pula kalau mereka dapat mencapai target mereka atau bahkan melebihi ekspektasi harus ada hadiahnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.